Konfucius atau Kongzi (baca: kongce) hidup pada zaman Chun Qiu. Beliau adalah seorang ahli pikir, politikus dan pendidik yang ternama.
Pikiran Ru adalah salah satu ajarannya yang sangat mempengaruhi sejarah Tiongkok selama 2000 tahun lebih. Oleh karena itu, orang menyebutnya sebagai orang bijak, akan tetapi Kongzi tetap rendah hati.
ongzi selalu menganggap setiap orang pasti ada kekurangannya, hanya melalui rajin belajar baru dapat memperbaiki.
Selain itu, Kongzi tidak hanya pandai berbicara saja, perilakunya sesuai dengan perkataan-nya.
Pada suatu hari Kongzi bepergian ke Negara Lu untuk menghadiri upacara penghormatan kepada leluhur yang diselenggarakan oleh Raja.
Kongzi tak segan-segan bertanya kepada siapapun hingga hal-hal yang kecil sekalipun.
Pada saat itu di belakang Kongzi, ada orang mengejeknya sebagai orang yang kuper dan tidak pernah bergaul. Tidak mengerti tata cara upacara kerajaan sedikit pun, semua hal ditanyakan.
Mendengar komentar ini, Kongzi berkata kepada muridnya, “Sesuatu yang kita tidak mengerti, didalam situasi apapun, harus kita tanyakan sampai jelas. Ini sikap yang selalu saya pegang. Kalian juga harus mengikutinya.”
Di negeri Wei, ada seorang Tabib bernama Kongyu, dia gemar sekali belajar, rendah hati dan jujur. Dalam situasi masyarakat pada saat itu, apabila seseorang yang berkuasa atau mempunyai kedudukan meninggal, selalu diberi gelar penghargaan.
Pada saat Kongyu meninggal, raja Wei memberikan gelar Wen Gong kepada Kongyu, agar generasi muda dapat mencontoh semangat belajar dan bertanya Kongyu. Di kemudian hari, orang-orang menyebutnya Kong Wen Zhi.
Murid Kongzi yang berasal dari negara Wei, bernama Zhi Kong, tidak bisa menerima pemberian gelar yang begitu agung itu. Lalu dia bertanya kepada Kongzi, ”Guru pantaskah gelar itu diberikan kepada Kongyu? Padahal masih banyak yang lebih pintar dari Kongyu.”
Kongzi menjawab, ”Orang yang gemar belajar, tidak malu bertanya, baik kepada orang yang memiliki jabatan dan pendidikan lebih rendah. Kongyu pintar, rajin belajar dan tak malu bertanya, tentu gelar penghargaan tersebut tidaklah berlebihan untuknya.”
Kamis, 07 Mei 2009
Kongzi : Tak Segan Bertanya
Konfusius: Moral Kebajikan dari Air
Konfusius sedang bersantai sambil mengamati air sungai yang mengalir ke arah Timur. Zi Gong bertanya kepadanya, “Ketika seorang pria sedang mengamati air seperti ini, dia akan sangat menikmatinya. Mengapa seperti itu?”
Konfusius berkata:
Karena air besar dapat terus mengalir tanpa henti. Air sangat baik, mengaliri setiap tanah dimana dia pergi, akan tetapi air tidak mengingat diri sendiri telah melakukan sesuatu yang sangat bagus. Ini seperti moral kebajikan.
Kemanapun dia pergi, meski kadang kadang berada di tempat rendah dan kadang-kadang di tempat tinggi, hanya mengikuti satu prinsip. Seperti halnya keadilan.
Air yang hebat mengalir setiap waktu tanpa henti. Seperti halnya Tao.
Ketika air harus mengalir ke ngarai sedalam puluhan ribu zhang (standard pengukuran China kuno setara dengan 10 chi, atau 11 kaki 9 inchi – 3.58 meter), air akan mengalir tanpa rasa takut. Seperti halnya keberanian.
Air juga selalu tau menempatkan diri. Seperti halnya Fa (Hukum). Ketika air memenuhi suatu wadah, air secara alami akan mengalir memenuhi wadah tersebut tanpa perlu dibentuk. Hal ini sama seperti kebenaran.”
Air juga sangat penuh pertimbangan, secara alami akan mengalir ke manapun. Seperti halnya mencari detail terkecil dalam segala sesuatu.”
Air mengalir dari sumbernya dan secara cepat mengalir ke arah timur. Seperti halnya memiliki tujuan yang lurus dan Mulia.
Air dapat mengalir masuk dan keluar dimanapun dia mengalir, dan juga dapat memurnikan segala sesuatu di dalamnya. Seperti halnya orang bijak yang pandai mengajar.
Air memiliki kebijakan yang berlimpah, sehingga ketika orang dengan kebijakan tinggi melihatnya, mereka akan mengamatinya secara penuh perhatian dan merasa sangat bahagia.
Demikianlah pandangan dari Konfusius mengenai moral kebijakan dari air.
Saya telah melihat banyak sungai tetapi tidak pernah mengamati bahwa air memiliki moral kebajikan yang besar, yang mungkin terlewatkan begitu saja ketika kita melihatnya, memiliki mata tapi tidak melihat, dan karenanya, saya sangat malu.
Seorang artis luar negeri pernah mengatakan, “Hidup ini begitu indah, tetapi hanya kurang mata untuk melihat sesuatu yang indah di dalamnya.”
Seorang ahli filosofi di China mengatakan, “Di dunia ini ada begitu banyak keabadian, tetapi hanya kurang mata yang bijak untuk menemukan keabadian.”
Tao mengatakan, “Manusia mengikuti bumi, bumi mengikuti langit, dan langit mengikuti Tao, dan Tao mengikuti apa yang terjadi secara alami.” Hari ini, setelah membaca “Konfusius mengenai moral kebajikan dari air” saya telah mengerti kata-kata ini dengan lebih baik.
Konfusius Bicara tentang Nasib Suatu Bangsa
Raja Lu Ai Gong bertanya pada Konfusius, "Apakah benar nasib dari suatu bangsa ditentukan dari langit dan bukannya dari tindakan-tindakan pemimpinnya?"
Konfusius menjawab, "Nasib negara Anda akan tergantung pada tindakan-tindakanmu sendiri. Dalam kasus tertentu tindakan anda itu tidak dapat mengubah nasib bangsa Anda."
Raja berkata, "Baiklah. Bisakah anda memberikan beberapa fakta mengenai pernyataan ini?"
Konfusius berkata, "Selama periode Raja Zhou dari Dinasti Shang, dekat tembok ibukota ada seekor burung kecil yang melahirkan seekor burung besar. Raja berkonsultasi dengan seorang peramal mengenai hal tersebut. Peramal berkata, 'Bilamana suatu hal yang lebih kecil beranak lebih besar, itu berarti bahwa bangsa akan mampu mempersatukan lahan dan bangsa menjadi semakin makmur.' Mendengar itu Raja menjadi sangat puas. Ia berpikir bahwa ia bisa bergantung pada pertanda. Ia berhenti bekerja keras dalam memerintah negerinya dan menjadi sangat brutal terhadap para pejabat dan rakyatnya. Tidak satu pun dari pejabat di penjara kerajaan mampu menghentikannya. Pada akhirnya, musuh dari luar menyerang negeri mereka dan menggulingkan Dinasti Shang. Ini adalah sebuah contoh dari suatu pertanda yang baik yang membawa bencana, alasan tersebut menjadikan raja berpedoman pada tindakan yang baik dan menentang hukum dari langit.
Sebagai perbandingan, dalam kurun waktu pemerintahan Raja Zhou leluhur Raja Tai Wu, moralitas masyarakat sangat jelek dan hukum bangsa tersebut sangat kacau. Kejadian ini menyebabkan pertumbuhan dari suatu tanaman yang tidak lazim, yang tumbuh di dalam lingkungan kerajaan. Tanaman tumbuh sangat cepat. Dalam tujuh hari, tanaman membesar hingga cukup dipeluk oleh dua orang. Raja berkonsultasi dengan seorang peramal dan ia berkata, 'Tanaman liar jenis ini mestinya tidak tumbuh di lingkungan kerajaan, namun sekarang itu yang terjadi. Ini berarti bahwa bangsa akan menjelang masa akhir.' Raja Tai Wu sangat ketakutan. Ia mulai memperhatikan tindakan-tindakannya secara hati-hati dan ia juga berpikir bagaimana para raja yang sebelumnya menguasai bangsa tersebut secara benar dan memperhatikan orang-orangnya. Dalam tiga tahun, banyak raja dari negara lain telah mendengarkan tentang kebaikan Raja Tai Wu dan sebanyak enam belas raja telah mengirimkan para pesuruh mereka untuk mengunjungi dan menghormati Raja Dinasti Shang. Ini adalah sebuah contoh tentang menghentikan tindakan-tindakan tidak baik yang diakibatkan firasat buruk telah berbalik menjadi kebaikan.
Oleh karena itu, ketika langit membuat gejala dan berbagai bencana muncul, itu adalah peringatan langit kepada para penguasa; ketika pejabat bermimpi tentang kisah-kisah penuh arti dan asing, itu adalah peringatan langit kepada pejabat-pejabat. Bencana-bencana dan gejala asing atau aneh tidak akan mengalahkan kebijakan-kebijakan yang baik dan keputusan-keputusan baik suatu bangsa; mimpi-mimpi tidak akan mengalahkan akhlak tinggi dan kebaikan-kebaikan besar. Jika seseorang dapat berbuat seperti ini - mengalahkan tindakan-tindakan tidak baik dan mengikuti tindakan-tindakan benar - ini akan menjadi cara terbaik untuk mengatur suatu negeri. Hanya para raja orang yang bijaksana mampu melakukannya."
Raja Lu Ai Gong berkata, "Pengajaranmu itu mampu memberikan koreksi dengan tepat atas kelalaian saya. Adalah sangat luar biasa bisa mendengarkan pengajaranmu!"
Raja Zhou menghentikan tindakan-tindakan baik dan berubah menjadi jahat, dan negerinya menjadi hancur . Raja Tai Wu menghentikan tindakan-tindakan tidak baik dan berubah menjadi baik, dan negerinya menjadi maju. Dewasa ini Rezim Komunis China telah melakukan suatu pemerintahan diktator sejak permulaan, sudah melakukan bermacam-macam perbuatan jahat, hendaknya bercermin pada kisah Raja Zhou ini.
Kong Miao di Qu Fu, Kelenteng Terbesar Pemujaan Konghucu
Kong Zi (baca: Khong Ce, di Indonesia lazim disebut Khonghucu atau Confucius) bernama Qiu, dengan julukan Zhong Ni, warga dari Negara Lu pada masa Chun Qiu. Oleh karena Kong Zi telah mendirikan Konfusianisme, pada zaman Tiongkok kuno mendapatkan sebutan hormat "Guru Teladan Abadi" dan "Guru Senior Paling Sakral".
Generasi selanjutnya menghormati Kong Zi dengan mendirikan banyak Kong Miao (Sebutan Tempat Ibadah Khonghucu, di Indonesia lazim disebut Bun Bio) di berbagai tempat, sebagai kelenteng pemujaan terhadap Kong Zi.
Kong Miao di kota Qu Fu, kampung halaman Kong Zi – propinsi Shan Dong, adalah yang paling besar dan paling tua. Kong Miao tersebut bersama-sama dengan Kong Fu (tempat tinggal keturunan Kong Zi) dan Kong Lin (taman makam Kong Zi dan keturunannya) disebut “Tiga Kong”.Kong Miao di Qu Fu selesai dibangun pada tahun 478 SM, tahun kedua setelah Kong Zi wafat, setelah itu hampir setiap generasi berbagai dinasti terus menambahkan anugerahnya, bersamaan dengan itu juga melakukan perluasan dan renovasi terhadap Kong Miao tersebut sehingga menjadi luas seperti sekarang ini.
Kong Miao dibangun sesuai spesifikasi istana kerajaan, pada poros tengah terdapat Pemukiman dan Halaman Jiu Jin, bagian depan terdapat Pintu Ling Xing, Pintu Sheng Shi, Pintu Hong Dao, Pintu Da Zhong, Pintu Tong Wen, Paviliun Kui Wen, Tiga Belas Punjung (rumah kecil di taman) Yu Bei; dimulai dari Pintu Da Cheng dibagi menjadi tiga jalur:
Jalur Tengah terdapat Pintu Da Cheng, Xing Tan, balairung Da Cheng, balairung Qin, balairung Sheng Ji, merupakan tempat pemujaan Kong Zi dan para Bijak lainnya, Jalur Timur adalah tempat kediaman Kong Zi, Jalur Barat terdapat balairung Qi Sheng Wang, tempat pemujaan orang tua Kong Zi dan lain-lain. Total terdapat 460 buah lebih balairung, aula, altar dan paviliun, 54 buah pintu gapura dan 1200 buah lebih pohon tua serta prasasti tulis - bersejarah sebanyak 2.000 buah lebih, ditata dengan sangat hati-hati, agung, megah dan indah.
Gapura "Jin Sheng Yu Zhen" adalah gapura batu pertama sebelum memasuki pintu Kong Miao, "Jin Sheng" adalah suara dari lonceng, menandakan awal dari penabuhan instrument musik; "Yu Zhen" adalah suara dari Qing (suatu instrument kuno, biasanya terbuat dari batu Giok), menandakan akhir dari penabuhan instrument musik, jadi melambangkan sukses besar dari ideologi Kong Zi yang telah menyaripatikan ajaran dari orang-orang suci dan leluhur bijak zaman dahulu.
Pintu Ling Xing adalah pintu besar Kong Miao, Ling Xing adalah Bintang Budaya (salah satu dari 28 rasi bintang) yang ada di langit, nama ini digunakan demi mengekspresikan penghormatan kepada Kong Zi; Gapura Tai He Yuan Qi dan Zhi Sheng Miao berada di dalam area gapura Ling Xing, didirikan pada awal dinasti Ming.
Pintu Sheng Shi (Kala Suci) adalah pintu ring ke dua, nama diambil dari pujian Meng Zi terhadap Kong Zi sebagai "Sang Kala yang Suci", pada masa dinasti Qing raja Yong Zheng menahbiskannya menjadi Pintu Utama Kong Miao, genteng hijau kebiru-biruan bagaikan beristirahat di atas gunung, tampak depan dinding yang merah tua, dinding sebelah dalam yang kuning apricot, cemara-cemara tua di dalam pekarangan yang ijo royo-royo sangat rindang, terkesan sangat dalam dan jauh seolah tak berhingga.
Pintu ring ke-3 adalah "Pintu Hong Dao" yang berarti Pintu Menyebarluaskan Dao, adalah Pintu Besar Kong Miao pada zaman sepuluh tahun masa kekuasaan kaisar Ming Hongwu (dynasty Ming), nama tersebut ditahbiskan pada masa kekuasaan Yong Zheng, dynasti Qing, tahun ke tujuh, diambilkan dari cuplikan (Nama salah satu karya Kong Zi) yakni "Manusia bisa Menyebarluaskan Dao", sebagai pujian kepada Kong Zi yang telah mengkhotbahkan Dao (Prinsip Alam Semesta) dari kaisar-kaisar bijak zaman dahulu seperti Yao, Shun, Yu, Tang, Wen, Wu dan Zhou Gong.
Paviliun Kui Wen mulai didirikan pada masa dinasti Song tahun kedua Raja Tianxi, asalnya bernama Gedung Cang Shu (Penyimpan Buku), adalah salah satu bangunan utama Kong Miao. Kui adalah nama bintang, melambangkan karya sastra/budaya, orang zaman dahulu menyebut bintang Kui sebagai induk dari para birokrat.
Paviliun Kui Wen beratap genteng kuning bagaikan beristirahat di atas puncak gunung, berteritis-melayang bertumpuk tiga, berbalok lengkung empat tingkat. Di dalam pavilion semula disimpan buku-buku pemberian dan karya kaligrafi para raja dan kaisar, juga tempat berlangsungnya “gladi resik” upacara protokoler saat kunjungan kaisar ke Kong Miao. Di koridor pavilion bagian depan terdapat dua buah prasasti batu, di sebelah timur adalah "Kui Wen Ge Fu", hasil karya pujangga dinasti Ming bernama Li Tongyang dan ditulis oleh ahli kaligrafi Qiao Zong; di sebelah barat adalah "Kui Wen Ge Chong Zhi Shuji Ji".
Konon Altar Xing adalah tempat Kong Zi mengajar, berlokasi pada posisi sentral jalan setapak di depan balairung Da Cheng. Tahun kedua masa pemerintahan Tianxi dinasti Song, balairung tengah Kong Miao direnovasi dan diperluas ke belakang, lokasi lama di balairung tengah tanahnya dibersihkan dijadikan altar, pohon Apricot ditanam berkeliling maka dinamakan Altar Xing (Apricot), pada Dinasti Jin di atas altar mulai didirikan punjung.
Bubungannya berbentuk ( + ), empat sisinya dikelilingi gunung, beratap genteng berglazir kuning, plafonnya berukir naga, indah beraneka warna. Disamping altar tumbuh beberapa pohon apricot yang setiap awal musim semi bunga merahnya menari-nari sangat menawan hati.
Balairung Da Cheng adalah balairung utama Kong Miao, tinggi 24,8 m, lebar 45,78 m, kedalaman 24,89 m adalah balirung tengah untuk pemujaaan Kong Zi. Selama hidupnya Kong Zi mengerjakan karya-karya Shi, Shu, Li, Le, Yi dan Chun Qiu serta karya-karya lainnya.
Beliau telah meletakkan fondasi yang kokoh bagi kebudayaan Tionghoa dan dipuja oleh generasi penerus. Teristimewa adalah buku Lun Yu (Kumpulan Pandangan Konfusianisme) dari Kong Zi, berpengaruh sangat mendalam bagi prinsip hidup orang Tionghoa.
Balairung Da Cheng berteritis lebar dan berbubungan 9, genteng kuning dengan bubungan bak melayang, dikelilingi selasar-sirkulasi; bersama dengan balairung Tai He dari Istana Terlarang (Beijing) dan balairung Dai Miao Song Tian Kuang (di Tai Shan) disebut sebagai Tiga Balairung Besar Dari Dunia Timur. Balairung besar berteritis lebar dengan sudut meliuk, balok lengkung yang bersaling-silang, balok berukir dan kolom bergambar, sangat bergaya. Di bawah selasar yang mengelilingi empat sisi berdiri tegak 28 buah kolom batu berukiran naga, semuanya dipahat dari batu utuh.
Patung Kong Zi terletak di posisi sentral di dalam balairung Da Cheng, setinggi 3,35 m, kepalanya memakai mahkota berhiaskan 12 ronce batu giok, mengenakan pakaian raja beratribut 12, tangan memegang zhen gui (seperti tongkat komando terbuat dari batu giok, ujung atas bulat & bawah persegi), persis seperti tata krama kaisar zaman dahulu.
Pada kedua sisinya terdapat empat pendamping, sisi timur menghadap arah barat adalah Orang Suci Yan Hui dan Kong Ji, pada sisi barat menghadap timur terdapat Orang Suci Zeng Shen dan Meng Ke. Diluar itu ada 12 Orang Bijak, yang disebut para murid Kong Zi. Keempat pengiring mengenakan topi berhiaskan 9 ronce batu giok dan 12 Orang Bijak mengenakan topi beronce giok 9, mengenakan jubah dengan 9 atribut, tangan memegang busur Gui, bagaikan tata krama a la Shang Gong pada zaman kuno.
Pada pusat balairung tergantung kaligrafi "Guru Teladan Abadi" yang ditulis sendiri oleh kaisar Kang Xi dan Bian E (papan horizontal berkaligrafi berisi pujian, biasanya diletakkan diatas pintu utama) yang ditulis oleh kaisar Guang Xu, di sebelah selatan adalah Bian E hasil karya dari kaisar Qian Long, diluar pintu dengan posisi tepat di tengah adalah Bian E yang ditulis sendiri oleh kaisar Yong Zhen, berhias relief berbentuk naga dan bertatahkan emas, indah mempesona.
Prasasti berukir dari setiap masa yang ada di dalam Kong Miao, secara kuantitas hanya dibawah rimba prasasti di Xi An, juga sangat banyak prasasti kaisar, ini peninggalan para kaisar sepanjang sejarah sewaktu berkunjung ke Kong Miao, di dalam punjung13 prasasti di depan Da Cheng terdapat prasasti raja sebanyak 50 buah.
Masa hidup Kong Zi bisa diringkas sebagai: "Usia 15 bertekad mau belajar, usia 30 mandiri, 40 tidak bimbang ragu, 50 mengetahui takdir Langit, 60 mendengar dan menurut serta usia 70 menurut kehendak hati dan tidak melanggar aturan" dan mengakiri masa hidupnya dengan membimbing dan mengembangkan ajaran kaum Konfusianis, terhadap ilmu filsafat, sastra, seni, pendidikan dan sejarah dari masyarakat Tiongkok telah menimbulkan pengaruh luar biasa, sebagai kompas bagi pemikiran orang Tionghoa selama 2.000 tahun lebih; bersamaan dengan itu ajaran kaum Konfusianis dijadikan sebagai wakil menonjol dari kebudayaan tradisional Tiongkok, pengaruhnya terhadap generasi penerus bergema sampai ke Asia Timur dan bahkan ke seluruh dunia.
Read More......
Pahlawan Bangsa yang Besar Yue Fei dan Pengkhianat Bangsa Qin Gui
Sebelum pergi berperang melawan tentara Jin, ibu Yue Fei membuat tato empat huruf Jing Zhong Bao Guo (setia berbakti kepada tanah air) di belakang punggungnya, Yue Fei menjadikannya sebagai prinsip menghadapi masalah sepanjang hidup, pengaruhnya sangat mendalam terhadap generasi kemudian.
Apa yang diceritakan dalam ungkapan "ibu Yue Fei membuat tato huruf" adalah peristiwa tersebut. Laskar yang dipimpin Yue Fei disebut "Prajurit Yue", gigih berjuang melawan agresi, mengalahkan prajurit Jin, tentara Jin mengeluh: Mudah menggoncang gunung, namun sulit menggoyang tentara Yue! Perdana Menteri Dinasti Song yang pengkhianat bangsa Qin Gui melihat kegagalan besar prajurit Jin, bukan main paniknya, menyampaikan tuduhan palsu kepada raja, memfitnah Yue Fei mempunyai rencana mengkhianati kerajaan.
Kaisar Gao Zhong menurunkan 12 kali titah tertinggi memerintahkan "Prajurit Yue" yang menang terus agar segera menarik mundur pasukan dan kembali ke istana, rakyat jelata berlutut di pinggir jalan menangis sedih, prajurit Jin merasa sangat gembira.
Pada tanggal 27 Januari 1142 M, Yue Fei dibunuh atas tuduhan mengkhianati kerajaan yang direkayasa oleh Qin Gui, Zhang Jun dan kawan-kawan. Sebelum Yue Fei terbunuh di atas surat pengakuan tertulis delapan kata: "langit terang benderang, langit terang benderang," menghadapi kematian tetap tidak menyerah. Padahal usianya baru 39 tahun, dan masih ada anaknya yang dibunuh pada saat yang sama dengan dirinya yaitu Yue Yun dan Jenderal Zhang Xian. Sajak Yue Fei melawan musuh cinta negeri "Man Jiang Hong" penuh semangat yang berapi-api, membuat ciut nyali prajurit Jin yang mendengarnya.
Setelah Yue Fei terbunuh, juru kunci penjara Kui Shun dengan menempuh risiko, memikul jenazah Yue Fei, melewati tembok kota, dan dengan tergesa-gesa menguburnya di samping Kelenteng Jiu Qu Chong. Dua puluh satu tahun kemudian, Kaisar Xiao Zhong Dinasti Song memerintahkan merehabilitasi nama baik Yue Fei, dan dengan harga tinggi menawarkan hadiah sebesar 500 untai uang bagi yang menemukan jenazah Yue Fei, mengadakan upacara yang khidmat memindahkan makamnya di bawah gunung Qi Xia, yaitu makam Yue Fei sekarang ini. Tahun 4 Jia Tai (tahun 1204) yaitu setelah Yue Fei meninggal, kerajaan menganugerahinya sebagai Raja E.
Pusara Yue Fei disebut juga makam Yue, letaknya di kaki pegunungan selatan pegunungan Qi Xia, Hangzhou, didirikan pada masa Dinasti Song Selatan tahun 14 Jia Ding (tahun 1221), semasa Dinasti Ming diubah menjadi "Kuil Pahlawan Setia", setelah mengalami masa Dinasti Yuan, Ming, Qing, dan masa Republik, pasang surut kuil, diwariskan turun-temurun dan bertahan hingga sekarang. Bangunan sekarang ini adalah dibangun kembali pada tahun 54 Kang Xi Dinasti Qing (1715 M), tahun 1918 pernah direnovasi besar-besaran, dan pada tahun 1979 diperbaharui total, sehingga Kuil Yue bertambah megah. Kuil Yue adalah tempat peringatan pahlawan bangsa Yue Fei sepanjang masa.
Pintu utama Kuil Yue adalah sebuah bangunan atap dobel 2 lapisan, tinggi dan megah, di tengah-tengah tergantung papan tegak yang tertulis kalimat "Kuil Raja Yue", dan di tengah balairung utama "Kuil Pahlawan Setia" tergantung sebuah papan mendatar dengan tulisan "Xin Zhao Tian Re" (ahli menerangi langit), yang ditulis oleh negarawan senior China komunis Ye Jian Ying. Di tengah balairung adalah patung berwarna Yue Fei yang berukuran 4,5 meter, mengenakan jubah piton warna lembayung, lengannya memperlihatkan lapisan emas, menunjukkan semangat kepahlawanan sang jenderal besar.
Tembok atas kedua sisi balairung tertulis empat huruf besar "Jing Zhong Bao Guo" (setia berbakti pada tanah air) yang ditulis oleh Hongzhu, seorang warga Pu Tian pada masa Dinasti Ming. Di atas patung tergantung sebuah papan mendatar yang bertuliskan "Huan Wo He Shan" (kembalikan tanah airku), merupakan tulisan tangan Yue Fei sendiri, kedua sisi kiri kanan masing-masing tergantung sebuah papan horizontal yang bertuliskan "Bi Xie Dan Xin" (darah keadilan dan hati yang setia) dan "Hao Qi Chang Cun" (semangat luhur yang kekal abadi), kedua sisi belakang balairung adalah tempat ibu Yue menato huruf dan lain-lain lukisan dinding raksasa, memperlihatkan prestasi kepahlawanan Yue Fei melindungi ibu pertiwi. Di atas langit-langit balairung terdapat lukisan ratusan bangau putih, bentuk 373 ekor bangau masing-masing berbeda, lukisan yang tampak hidup, boleh dikatakan melambangkan semangat Yue Fei yang luhur dan karakter yang setia.
Read More......
Cao Bin: Pria Sejati Bersikap Rendah Hati
Seorang pria sejati, tidak dilihat dari kehebatannya. Ia cukup dengan bersikap rendah hati, pemaaf dan toleran terhadap orang lain. Sifat itulah yang dimiliki Jenderal Besar Cao Bin.
Cao Bin dilahirkan di Kabupaten Linshou yang dikenal sekarang sebagai Provinsi Hebei, Tiongkok. Ia merupakan salah seorang tokoh yang membantu mendirikan Dinasti Song Utara. Walaupun telah meraih banyak keberhasilan dan penghargaan, ia tidak pernah membanggakan prestasinya dan memperoleh rasa hormat yang mendalam dari rakyat.
Tahun ke-5 periode Xiande pada masa akhir Dinasti Zhou, Kaisar Shizong (Chai Rong) meminta Cao Bin untuk melakukan kunjungan kenegaraan ke kerajaan Wuyue. Wuyue mencoba memberinya banyak hadiah pada berbagai kesempatan, tetapi Cao Bin selalu menolak. Saat perjalanan pulang, setelah naik ke kapal, Wuyue tanpa sepengetahuan Cao Bin meninggalkan sejumlah besar emas, perak dan berbagai permata di atas kapal sebagai hadiah untuknya.
Setelah kembali ke istana, Cao Bin menyerahkan seluruh harta tersebut kepada istana. Kaisar sangat tersentuh dengan sikapnya tersebut dan mengembalikan seluruh hadiah kepadanya. Cao Bin tidak ada pilihan kecuali menerima penghargaan kaisar. Setelah menerima hadiah dari kaisar, ia membagikan seluruhnya kepada kerabat dan kawan-kawannya.
Pada saat itu, Zhao Kuangyin (yang belakangan mendirikan Dinasti Song dan menjadi Kaisar Taizong) adalah seorang jenderal penting yang memimpin pasukan kerajaan. Banyak perwira mencoba mendekatinya, hanya Cao Bin yang tidak melakukan itu. Selain dalam tugas resmi, ia tidak pernah mengunjungi Zhao di rumahnya. Setelah Zhao Kuangyin menjadi kaisar, ia pernah sekali bertanya kepada Cao, “pada masa lalu, saya selalu ingin mengenal Anda lebih dekat. Mengapa Anda selalu dengan sengaja menjaga jarak dan menghindar dari saya?” Cao Bin menjawab, “saya cukup dekat dengan mantan Kaisar Zhou dan juga seorang pejabat di istananya. Saya memusatkan perhatian untuk memenuhi kewajiban dan tidak ingin membuat kesalahan. Bagaimana saya berani berteman dengan Yang Mulia?” Karena jawabannya yang jujur kaisar menjadi lebih memandangnya.
Tahun kedua periode Jianlong, Cao Bin mengabdi sebagai kanselir Liu Guangyi, ketika Liu memimpin pasukan untuk menumpas pemberontakan di Shu (Provinsi Sichuan sekarang). Setelah pemberontakan dipadamkan, semua perwira tinggi dari tentara Song pulang ke rumah dengan perempuan cantik, giok, sutra dan berbagai barang berharga lainnya. Cao Bin hanya membawa pulang pakaian dan buku-bukunya. Kaisar Taizong menyadari jasanya yang besar dalam memadamkan pemberontakan tersebut, dan mengangkatnya menjadi gubernur Yicheng. Cao Bin mencoba menolak promosi tersebut beberapa kali. Kaisar akhirnya berkata, “Anda telah berjasa besar dan juga tidak pernah mencoba memamerkan diri. Adalah wajar bagi sebuah negara untuk memberikan penghargaan kepada yang baik dan menghukum yang buruk. Anda jangan menolaknya lagi.”
Setelah Dinasti Song didirikan, penguasa terakhir dari Dinasti Tang yang sebelumnya melarikan diri ke Jilin (Kota Nanjing sekarang) dan membangun Dinasti Tang Selatan. Cao Bin diminta oleh Kaisar Taizong dari Dinasti Song untuk menaklukkan Dinasti Tang Selatan. Ketika tentara Song mempersiapkan pengepungan dan penyerangan ke Kota Jilin, Cao Bin khawatir tentaranya akan melukai warga tidak berdosa yang tinggal di kota tersebut. Sehingga ia berpura-pura sakit dan meminta tentaranya untuk membakarkan dupa berdoa demi kesembuhannya dan membuat janji untuk tidak melukai satu orang pun yang tidak berdosa ketika melakukan pengepungan. Setelah tentara Song berhasil melakukan pengepungan, mereka memperlakukan warga biasa di Jilin dengan baik dan disambut hangat oleh rakyat di sana. Setelah penguasa Dinasti Tang Selatan dipaksa menyerah, Cao Bin menghibur pejabat-pejabat dan penguasa ini dengan kata-kata ramah dan memperlakukan mereka sebagai tamu terhormat.
Setelah Cao Bin dengan sukses menyelesaikan misi dan kembali ke Istana Song, dalam laporannya kepada kaisar, ia sekali lagi tidak mencoba untuk membanggakan diri sama sekali. Ia hanya menulis, “saya telah menyelesaikan tugas yang kaisar titahkan kepada saya di selatan.”
Sebelum Cao Bin memimpin tentara ke selatan, kaisar pernah berkata, bahwa beliau akan mengangkatnya menjadi perdana menteri bila Cao berhasil menaklukkan Dinasti Tang Selatan. Karena itu setelah wakilnya, Pan Renmei segera memberi selamat kepada Cao karena akan menjadi perdana menteri yang akan datang. Cao Bin tertawa lembut dan berkata, “bukanlah demikian. Saya hanyalah memenuhi kewajiban. Kita dapat meraih kemenangan hanya karena karunia langit dan strategi militer yang istana telah kembangkan sebelumnya. Jasa apa yang telah saya buat? Saya bahkan tidak pantas memperoleh jabatan itu.”
Walaupun Cao Bin memegang jabatan tinggi, ia sama sekali tidaklah kaya. Ia memberikan sisa gajinya kepada saudara-saudaranya. Buku Rekor Dinasti Song menggambarkannya sebagai berikut, “setelah memadamkan pemberontakan dua negeri (Shu dan Tang Selatan), ia tidak mengambil satu sen pun. Ia seorang jenderal dan perdana menteri, tetapi tidak pernah berpikir ia seorang yang istimewa karena jabatannya”. Ketika mengabdi pada istana kerajaan, ia tidak pernah melawan kehendak kaisar, juga tidak pernah membahas kekurangan orang lain. Ketika di perjalanan, ia selalu memerintahkan juru mudinya untuk menjalankan keretanya di tepi jalan dan membiarkan kereta perwira lainnya berlalu lebih dahulu, bahkan bila pejabat tersebut berpangkat jauh lebih rendah darinya. Ia tidak pernah memanggil bawahannya langsung dengan nama untuk menunjukkan rasa hormatnya kepada mereka. Bila bawahannya menghadap untuk melapor, ia selalu mengenakan pakaian dan topinya dengan cermat sebelum menemui mereka.
Ia memperlakukan bawahannya dengan toleransi yang besar, pertama-tama selalu memposisikan dirinya dalam situasi mereka. Ketika ia menjadi pejabat di Xuzhou, satu dari bawahannya membuat kesalahan dan hukuman cambuk beberapa kali dijatuhkan kepadanya. Tetapi Cao memerintahkan untuk menunda hukuman selama setahun. Rakyat tidak mengerti, mengapa ia lakukan hal itu. Cao menjelaskan, “saya mendengar pejabat ini baru menikah. Bila saya langsung menghukumnya, orang tuanya akan berpikir, bahwa istri barunya membawa sial kepadanya dan karenanya akan mencaci dan memukulinya setiap siang dan malam, membuatnya sulit bertahan hidup. Pejabat masih akan dihukum untuk kesalahannya. Tetapi penundaan tidaklah bertentangan dengan hukum.”
Dalam Buku Sikap (Li Ji) dikatakan, “seorang pria sejati tidak membesar-besarkan maupun membanggakan prestasinya. Ia hanya menceritakan fakta-fakta apa adanya”. Dikatakan lagi, “seseorang seharusnya memuji perbuatan baik dan prestasi orang lain, menghargai dan memperlakukan mereka dengan hormat”. Juga dikatakan, “karenanya, walaupun seorang pria sejati bersikap rendah hati, orang-orang dengan sendirinya akan menghormatinya”.
Ada sebuah pepatah Tionghoa, “langit di atas tidak berkata ia tinggi, namun ia memang tinggi. Tanah di bawah tidak berkata ia menjurus ke dalam, namun ia memang menjurus ke dalam”. Banyak orang sangat congkak. Mereka suka membanggakan diri dan selalu khawatir orang lain tidak mengetahui betapa cakapnya mereka. Sesungguhnya mereka sama sekali tidak cakap. Orang yang sungguh berpengetahuan dan bersikap tidak pernah mencoba menunjukkan dirinya. Bila seseorang sungguh cakap, orang lain akan mengenali dengan sendirinya tanpa orang tersebut berkata sesuatu. Orang Tionghoa berkata, “Bunga Plum selalu berdiam diri. Namun orang-orang terpesona dengan keindahannya. Begitu banyak orang membelokkan langkah kaki, mendekat untuk memandangnya”.
Cao Bin bukan saja berbakat, tetapi juga memiliki banyak budi jasa. Ia seorang pria sejati yang bersikap rendah hati, pemaaf dan toleran terhadap orang lain. Pada saat ia wafat, Kaisar Zhenzong dari Dinasti Song sangatlah sedih dan menangis. Setiap kali beliau bicara tentang Cao dengan para pejabatnya, kaisar menjadi terisak-isak. Setelah kematiannya, kaisar memberikan Cao gelar bangsawan Adipati Jiyang. Ia dan Perdana Menteri Zhao Pu keduanya memperoleh tempat terhormat di Kuil Kaisar Taizong. Ia secara luas juga dianggap sebagai seorang jenderal besar.
Putri Kwan Yin
Pada suatu ketika di China hiduplah seorang raja dengan 3 orang putri. Yang paling cantik dan baik hati adalah Kwan Yin adalah juga yang termuda. Raja yang sudah tua tersebut sangat bangga pada putri bungsu ini.
Tanpa ragu raja memutuskan bahwa Kwan Yinlah pewaris tahta kerajaan dan suaminya menjadi raja. Anehnya Kwan Yin tidak bergembira atas keberuntungan ini. Dia tidak begitu tertarik dengan kemewahan dan keindahan kehidupan istana. Dia meramalkan dirinya tidak menemui kebahagiaan saat jadi ratu, juga cemas bahwa untuk posisi yang demikian tinggi dia bukan orang yang tepat dan tidak sanggup menjabat.
Tiap hari Kwan Yin pergi ke kamar untuk belajar dan membaca. Kebiasaannya ini membuat dirinya menonjol jauh dalam pengetahuan bila dibandingkan dengan 2 saudara perempuan lainnya. Dalam lingkungan istana dia dikenal sebagai Kwan Yin Putri Bijaksana. Disamping suka membaca, dia sangat toleransi dengan teman-temannya. Dia sangat menjaga perilakunya baik di dalam istana maupun di tempat umum. Hatinya yang lembut selalu terharu melihat mereka yang menderita. Dia sangat baik hati terhadap para miskin dan orang-orang yang menderita. Dia telah memikat hati bagi kalangan bawah. Bagi mereka Kwan Yin adalah dewi penolong yang muncul saat mereka lapar. Beberapa orang bahkan percaya dia adalah peri yang datang ke bumi dari rumahnya yang berada di surga barat, sementara yang lainnya mengatakan bahwa pernah suatu kali jauh sebelumnya Kwan Yin telah tinggal di bumi sebagai pangeran, bukan putri. Apapun yang dikatakan orang, bagaimanapun Kwan Yin digambarkan, satu hal yang pasti adalah bahwa dia murni dan baik hati, patut mendapatkan pujian yang membanjiri dirinya.
Suatu hari raja memanggil putri kesayangannya ini ke kamar tidurnya, karena merasa detik-detik kematiannya semakin mendekat. Kwan Yin bersujud dihadapan ayahnya, berlutut dengan dahi menyentuh lantai, tanda hormat yang sangat. Raja kemudian meminta Kwan Yin berdiri dan mendekat kepadanya. Sambil memegang tangan putrinya dengan lembut, dia berkata, ‘Putriku, kamu tahu betapa ayah menyayangimu. Kerendahan hatimu dan kebajikanmu; bakat dan kegemaranmu pada pengetahuan telah membuatmu menjadi putri kesayanganku. Seperti kamu tahu ayah memilihmu sebagai pewaris tahta kerajaan telah lama dipertimbangkan. Ayah berjanji suamimu akan menjadi raja menggantikan ayah. Hampir tiba waktunya ayah untuk naik naga dan menjadi tamu di langit. Kamu harus segera menikah’.
‘Namun, ayah nan agung’, kata Kwan Yin bimbang, ‘Saya belum siap menikah’.
‘Anak kecil, belum siap! Mengapa, kamu belum 18 tahun? Bukankah semua gadis di kerajaan kita seringkali dinikahkan jauh sebelum usia 18? Disebabkan kegemaranmu belajar, ayah telah menunda kamu untuk dinikahkan, tapi sekarang kita tidak dapat menunggu lebih lama lagi!
‘Raja yang mulia, dengarkanlah suara anakmu dan jangan memaksa dia meninggalkan kegemaran yang amat disukainya. Biarkan dia pergi ke biara yang sunyi dimana dia menempuh jalan hidupnya!.
Raja menarik nafas panjang saat mendengar kata-kata tersebut. Dia mencintai putrinya ini dan tidak ingin melukai hatinya. ‘Kwan Yin’, raja melanjutkan, ‘Kamu ingin melewati masa mudamu ini dengan meninggalkan istana? Kamu ingin memasuki pintu biara dimana para wanita mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan duniawi? Tidak! Ayahmu tidak akan mengijinkan. Adalah hal yang menyedihkan ayah, dengan amat berat hati bulan depan kamu harus menikah. Ayah telah memilihkan pria bangsawan yang berbudi luhur. Kamu telah mengenal namanya, namun belum pernah bertemu muka. Ingatlah akan peraturan seratus sifat baik dari seorang wanita, itu yang terpenting, oleh sebab itu kamu harus berterima kasih kepada ayah, bukan kepada siapapun yang lainnya yang ada di muka bumi ini.
Muka Kwan Yin pucat. Badannya bergetar. Hampir saja dia terjatuh ke lantai, namun ibu dan saudara perempuannya segera menopangnya, kemudian dengan penuh kasih sayang merawatnya agar sadar kembali.
Tiap hari dalam satu bulan berikutnya sanak famili Kwan Yin memohon agar dia menyerah saja dengan apa yang mereka sebut ide bodoh, Kwan Yin yang telah lama meninggalkan harapan menjadi ratu. Mereka terheran-heran dengan kebodohannya. Mereka berpikiran bahwa bila ada orang memilih biara daripada singgasana kerajaan, bagi mereka orang tersebut menunjukkan tanda tidak waras. Berulang kali mereka menanyakan alasan mengapa dia mengambil pilihan yang aneh tersebut .Tiap kali ditanya, Kwan Yin menggelengkan kepala dan berkata, ‘Suara dari surga yang menyuruh demikian dan saya harus mematuhinya’.
Malam menjelang hari pernikahan Kwan Yin menyelinap keluar dari istana. Setelah melakukan perjalanan yang melelahkan, tibalah dia di sebuah biara yang bernama ‘Biara Burung Gereja Putih’. Saat lari dari istana, dia mengenakan pakaian dengan penampilan wanita miskin. Dia mengatakan ingin menjadi biarawati. Kepala biara, karena tidak mengetahui siapa wanita miskin ini sebenarnya lalu tidak menerima Kwan Yin dengan ramah, sebaliknya menolak Kwan Yin bergabung kedalam biara dengan alasan karena bangunan telah penuh. Akhirnya setelah Kwan Yin menangis tersedu-sedu barulah kepala biara mengijinkan Kwan Yin masuk, namun hanya sebagai semacam pelayan yang mengerjakan pekerjaan ringan.
Kini Kwan Yin merasakan kehidupan yang telah lama diimpikan. Dia mencoba untuk meyakinkan dirinya, namun para biarawati nampaknya ingin agar dia menderita. Seringkali mereka memberi pekerjaan yang berat sehingga dia tidak punya waktu untuk beristirahat, sibuk sepanjang hari. Menimba air dari sumur yang berada di bawah kaki bukit biara atau mengumpulkan kayu dari hutan di sekitar biara. Malam hari saat punggungnya telah kesakitan seperti mau patah, dia masih diberi pekerjaan ekstra, yang dapat mematahkan semangat dari wanita manapun, namun ini tidak membuat putri raja yang pemberani ini patah semangat. Mencoba melupakan kesedihan dan menyembunyikan penderitaan, kadang membuat dia mengernyitkan dahinya yang putih. Dia mencoba membuat biarawati-biarawati yang keras hati ini menyukainya. Membalas kata-kata kasar dari mereka dia berbicara dengan ramah dan tidak pernah marah pada mereka.
Suatu hari ketika Kwan Yin yang malang sedang memunggut semak di hutan dia mendengar suara seekor singa sedang berjalan dalam semak. Tidak punya senjata untuk mempertahankan diri, dia berdoa mohon pertolongan kepada dewa. Setelah itu menunggu dengan tenang datangnya hewan buas tersebut. Dia kaget, ketika hewan yang haus darah itu muncul, singa itu tidak menerkam dan mencabik-cabik tubuhnya. Hanya mendengus dengan pelan. Singa itu tidak mencoba melukai Kwan Yin, namun sebaliknya malah menggosokkan tubuhnya ke Kwan Yin dengan jinak dan membiarkan Kwan Yin menepuk-nepuk kepalanya.
Hari berikutnya sang putri kembali ke tempat yang sama. Di sana dia melihat tidak kurang dari satu lusin hewan buas sedang bekerja dibawah komando singa yang jinak sedang mengumpulkan kayu untuk dirinya. Dalam waktu singkat telah terkumpul setumpuk semak dan kayu bakar yang cukup untuk digunakan biara selama 6 bulan. Jadi, bahkan hewan liar di hutan lebih mampu menilai kebaikannya dibanding para biarawati.
Pada hari yang lain ketika Kwan Yin sedang mendaki bukit yang ke 20 kalinya sambil memikul 2 ember air, seekor naga besar menghadapnya di tengah jalan. Di China naga adalah hewan suci. Seingat Kwan Yin dia tidak melakukan kesalahan apa-apa, jadi dia tidak takut sedikitpun. Naga itu melihat ke dia sesaat, kemudian memutar badannya dengan kepalanya menghadap ke bukit, lalu menyemburkan api dari hidungnya. Tiba-tiba kemudian, beban di pundak wanita yang menakjubkan ini tidak dirasakan. Dengan penuh kecemasan dia berlari ke atas bukit, ke biara. Saat mendekati halaman dalam, dia kaget melihat sebuah bangunan baru terbuat dari batu di tengah sebuah ruangan terbuka. Bangunan itu muncul secara ajaib saat dia sedang berlari dari kaki bukit. Di atas pintu yang menghadap ke arah barat ada lempeng batu yang berisi tulisan: ‘Menghormati Kwan Yin Putri Yang Beriman. Di dalam bangunan tersebut. ada sebuah sumur dengan air yang sangat jernih. Sementara itu untuk menimba air, ada sebuah mesin aneh, baik Kwan Yin maupun para biarawati tidak pernah melihat sebelumnya.
Para biarawati tahu bahwa sumur ajaib ini adalah monumen untuk mengingatkan kebaikan dari Kwan Yin. Selama beberapa hari para biarawati memperlakukan Kwan Yin lebih baik, ‘Karena dewa menggali sebuah sumur di depan pintu gerbang kita’, kata mereka. ‘Gadis ini tidak perlu lagi memikul air dari kaki bukit. Apakah karena itu maka dewa menulis nama pengemis itu?’.
Kwan Yin mendengar ucapan mereka yang tidak enak itu dalam keheningan. Dia dapat saja menjelaskan makna dari pemberian naga tersebut. tapi dia memilih untuk membiarkan para biarawati menerka dalam ketidaktahuan. Pada akhirnya biarawati-biarawati yang egois mulai sembarangan lagi dan memperlakukan Kwan Yin bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Mereka tidak boleh melihat gadis yang malang itu menikmati waktu luangnya.
‘Di sini harus bekerja!’, para biarawati berkata kepada Kwan Yin, ‘Kami semua bekerja keras untuk berhasil dalam lingkungan ini. Kamu harus melakukan hal yang sama. Jadi mereka merampas kesempatan waktu Kwan Yin untuk belajar dan berdoa dan tidak mempercayakan sumur ajaib itu kepadanya.
Suatu malam para biarawati dibangunkan oleh suara-suara asing, lalu mereka mendengar bunyi terompet. Ayah Kwan Yin telah mengirim sepasukan besar tentara menyerang biara. Nampaknya mata-mata kerajaaan telah berhasil melacak pelarian putri di tempat pengasingan suci ini.
‘Oh, siapa yang telah membawa kesengsaraan ini ke kita?’ teriak semua wanita, saling memandang satu sama lain dengan penuh ketakutan. 'Siapa yang telah melakukan kejahatan besar? Salah satu diantara kita telah berdosa besar dan sekarang dewa akan menghancurkan kita'. Mereka saling memandang, namun tidak seorangpun mencurigai Kwan Yin, karena mereka berpikir bahwa dia bukanlah orang penting yang dapat membuat langit marah, walaupun pada nyatanya Kwan Yin telah menyebabkan sesuatu yang mengejutkan mereka saat ini. Juga bagi mereka Kwan Yin itu rendahan dan begitu penurut, sehingga mereka tidak menuduh dia macam-macam.
Suara ancaman dari luar terdengar makin keras. Pada saat bersamaan tangisan penuh ketakutan tiba-tiba meledak diantara para biarawati. 'Mereka akan membakar sumur ajaib kita'. Asap telah membumbung di belakang pagar dimana tentara kerajaan membakar kayu, apinya akan segera membesar dan menghanguskan dinding biara menjadi abu.
Tiba-tiba sebuah suara terdengar didalam kegaduhan dan tangisan para biarawati. 'Oh, sayalah penyebab dari semua masalah ini'.
Para biarawati menoleh dengan kaget, melihat wanita yang berbicara tadi adalah Kwan Yin. 'Kamu?' mereka berteriak terkejut.
'Ya, saya. Saya memang putri seorang raja. Ayah saya tidak mengijinkan saya mematuhi perintah suci dari langit. Saya melarikan diri dari istana. Dia telah mengirim tentaranya untuk membakar biara ini dan membawa saya kembali.
'Lihat apa yang telah kamu lakukan terhadap kami, gadis yang menyedihkan', teriak kepala biara. 'Lihat bagaimana kamu membalas kebaikan kami! Biara kami akan dibakar di depan mata kita! Betapa kamu telah membuat kami menjadi malang! Semoga langit mengutukmu!'.
'Tidak, tidak!, teriak Kwan Yin, berbicara dan mencoba mencegah kepala biara mengucapkan kata-kata buruk. 'Kamu tidak berhak mengutuk saya, karena saya tidak bersalah, namun tunggu! Kamu akan segera tahu doa siapa yang akan didengar dewa, doamu atau doaku!. Setelah berkata demikian dia lalu membungkuk dan menempelkan dahinya ke lantai, berdoa agar biara dan biarawati selamat.
Di luar biara suara lidah api sudah mulai kedengaran. Si raja api akan segera menghancurkan setiap bangunan yang ada di atas bukit. Dalam kepanikan para biarawati bersiap-siap meninggalkan biara dan meninggalkan barang mereka kepada si raja api yang kejam dan banyak tentara yang lalim. Hanya Kwan Yin yang masih bertahan sendirian di dalam kamar, berdoa dengan sungguh-sungguh memohon pertolongan.
Tiba-tiba angin sepoi-sepoi bertiup dari hutan sekitar biara. Awan hitam berkumpul di atas langit dan meskinpun saat itu adalah musim kemarau, hujan turun membasahi api. Dalam 5 menit api telah padam dan biara selamat dari api. Baru saja biarawati yang gemetaran berterima kasih kepada Kwan Yin karena telah menghadirkan pertolongan dewa kepada meraka, 2 orang tentara yang mendaki tembok luar kompleks bangunan biara datang dan dengan kasar menanyakan sang putri.
Kwan Yin yang gemetaran tahu bahwa tentara ini hanya menjalankan perintah ayahnya, lalu berdoa kepada dewa dan kemudian menyebutkan dirinya. Kedua tentara itu kemudian menarik Kwan Yin dari hadapan biarawati yang mulai menyukainya. Setelah dipermalukan dihadapan tentara ayahnya Kwan Yin dibawa kembali ke ibukota kerajaan.
Keesokan harinya dia berada di depan ayahnya. Ayahnya menatap dengan sedih kepada putrinya. Dengan pandangan tegang gaya seorang hakim dia memberi isyarat kepada para pengawal untuk membawa dia maju menghadap.
Dari ruang sebelah terdengar musik yang merdu. Sebuah pesta telah disiapkan ditengah kemegahan. Suara tawa yang keras dari para tamu mencapai telinga dari gadis muda ini saat dia membungkuk dengan malu di hadapan singgasana ayahnya. Dia tahu bahwa pesta ini telah di siapkan untuk dirinya dan ayahnya ingin memberi dia satu kesempatan lagi.
'Nak', kata ayahnya pada akhirnya bersuara lagi, 'Meninggalkan istana pada malam pernikahanmu bukan saja mempermalukan ayahmu namun juga calon suamimu. Untuk tindakan ini kamu pantas menerima hukuman mati. Bagaimanapun, dikarenakan catatan prestasimu yang luar biasa sebelum kamu melarikan diri, ayah telah memutuskan untuk memberimu satu lagi kesempatan untuk menebus semua kesalahanmu. Bila kamu menolak, maka hukumannya adalah kematian, bila kamu mematuhi semua akan baik.Tahta kerajaan yang telah kamu tolak tetap milikmu. Semua yang saya inginkan adalah kamu menikah dengan orang yang telah saya pilih'.
'Dan kapan raja yang mulia saya harus memutuskan', tanya Kwan Yin dengan serius.
'Hari ini, sekarang, saat ini', ayahnya menjawab. 'Apa kamu ragu antara tahta dan kematian? Bicaralah putriku, katakan bahwa kamu menyayangi ayahmu dan bersedia menerima tawaran ayahmu!.
Ini adalah saat dimana Kwan Yin dapat berbuat agar dirinya agar tidak terus-menerus berlutut di bawah kaki ayahnya dan memenuhi keinginan ayahnya, bukan karena ayahnya menawarkan dia tahta kerajaan, tapi karena dia mencintai ayahnya dan akan dengan senang hati membuat ayahnya bahagia.
Keinginan hatinya yang kuat telah membuat Kwan Yin jauh dari rasa iba. Tidak ada kekuatan di muka bumi ini yang dapat mencegahnya untuk tidak melaksanakan tugas yang telah diberikan kapadanya.
'Ayah yang tercinta', dia menjawab dengan sedih dan suara yang penuh kelembutan, ini bukanlah pertanyaan mengenai kasih sayang anak kepada ayah. Untuk yang satu ini tidak perlu diragukan. Sepanjang hidup saya, telah tercermin dari semua perbuatan saya. Percaya pada saya. Andai saya bebas memenuhi permintaan ayah, dengan senang hati akan saya lakukan agar ayah bahagia, namun dewa telah berkata, telah menitahkan agar saya mempertahankan kesucian, mencurahkan hidup untuk melakukan perbuatan belas kasih. Bila langit telah menitahkan demikian, apalah yang dapat seorang putri lakukan selain mendengarkan kekuatan yang mengatur bumi ini?'.
Sang raja yang tua sangat tidak puas dengan jawaban Kwan Yin. Dia menjadi marah. Keriput tipis di mukanya berubah jadi berwarna ungu saat darah mendidih naik hingga ke ubun-ubunnya. 'Kalau begitu kamu menolak memenuhi perintah ayah! 'Bawa dia pergi!'' Hukum mati dia karena berhianat kepada raja!'. Ketika Kwan Yin dibawa pergi dari hadapannya, raja yang telah beruban ini jatuh dari kursinya, pingsan.
Malam itu ketika eksekusi mati Kwan Yin dilaksanakan, dia memasuki alam rendah penderitaan. Tak lama kemudian dia telah menginjakkan kakinya di negeri hitam kematian. Kemudian di tempat dimana penderitaan yang tiada akhir itu, tiba-tiba mekar seperti taman surga. Bunga teratai putih-murni muncul di setiap sudut. Aroma harum semerbak dari jutaan bunga memenuhi segenap ruangan dan koridor. Raja Yama, sang penguasa datang tergesa-gesa untuk mengetahui perubahan yang indah ini. Tak lama kemudian matanya terhenti pada wajah muda yang cantik dari Kwan Yin. Lalu dia melihat ada tanda kemurnian dalam dirinya yang memang patut baginya berada di surga.
'Perawan yang suci dan cantik, melakukan banyak perbuatan yang berbelas kasih', setelah berkata demikian dia berkata lagi, 'Saya memohon padamu, atas nama keadilan agar meninggalkan kerajaan yang berlumuran darah ini. Tidaklah pada tempatnya bunga yang tercantik dari surga menebarkan keharumannya di ruangan ini. Yang bersalah harus menderita dan yang berdosa akan mendapat ganjaran. Berangkatlah engkau dari tempatku ini. Kehidupan yang abadi akan dilimpahkan kepadamu dan hanya surga yang akan menjadi tempat tinggalmu'.
Kwan Yin menjadi dewi yang belas kasih. Dia menempati tempat kediamannya yang indah, jauh melebihi raja dan ratu yang ada di bumi. Sejak saat itu, disebabkan oleh kebajikannya, ribuan orang miskin memanjatkan doa kepada dia memohon pertolongan. Tidaklah ada ketakutan dari para miskin ini saat mereka menatap patung Kwan Yin. Mata mereka berlinang air mata kasih.
