Jumat, 24 Desember 2010

Inilah Kunci Didalam Belajar

Orang China kuno percaya belajar dengan ketekunan dan menekankan kegigihan serta konsistensi dalam belajar. Tidaklah tepat apabila giat belajar satu hari dan bermalasan untuk 10 hari berikut
Orang China kuno percaya belajar dengan ketekunan dan menekankan kegigihan serta konsistensi dalam belajar. Tidaklah tepat apabila giat belajar satu hari dan bermalasan untuk 10 hari berikutnya.


Konon dapat dikatakan rajin belajar adalah ukuran moralitas dalam menimba ilmu. Ketika orang ingin maju dengan usaha terbaiknya, mereka akan berhasil meraih tujuannya. Sama seperti pepatah tua yang mengatakan: Membaca buku 100 kali, Anda akan secara alami memahami artinya. Berikut adalah dua buah cerita mengenai orang kuno yang memahami makna belajar.

Rajin dan konsisten

Selama era Dinasti Dong Jin (317-420M), ada seorang penyair terkenal bernama Tao Yuanming yang juga merupakan seorang bangsawan dan sarjana yang tahu banyak hal. Suatu kali seorang pemuda berkata kepadanya, “Saya mengagumi Anda karena begitu tahu banyak hal. Maukah Anda memberi tahu saya cara terbaik untuk belajar?”

Tao Yuanming menjawab, “Tidak ada cara terbaik. Jika kamu bekerja keras, kamu akan mendapat kemajuan, dan jika kamu bermalasan, maka kamu akan tertinggal di belakang.”

Ia membawa pemuda tersebut dan menuntunnya ke sebuah lahan. Yuanming menunjuk ke arah biji kecambah kecil dan berkata, “Lihatlah dengan cermat. Dapatkah kamu melihat apa yang tumbuh di sana?”

Pemuda itu menatapnya dalam waktu lama dan kemudian berkata, “Saya tidak dapat melihatnya tumbuh.”

Tao Yuanming bertanya, “Benarkah? Lantas bagaimanakah biji kecambah menjadi begitu tinggi di kemudian hari? Pada kenyataannya, kecambah itu tumbuh setiap saat. Bagaimanapun juga, kita tidak dapat melihatnya dengan mata kita.

“Sama seperti prinsip dalam belajar. Pengetahuan kita terakumulasi sedikit demi sedikit. Terkadang bahkan kita tidak menyadarinya, namun apabila kita belajar terus-menerus, maka akan membuat kemajuan luar biasa.”

Tao Yuanming kemudian menunjuk pada sebuah batu pengasah pisau di samping sungai dan bertanya kepada pemuda itu, “Mengapa sisi cekung pada batu menurun seperti sebuah pelana kuda?”

Pemuda itu menjawab, “Itu karena orang menggunakannya untuk mengasah pisau setiap hari.”

Yuanming kemudian bertanya, “Lalu tepatnya di hari apa berbentuk seperti ini?” Pemuda itu lalu hanya menggelengkan kepalanya. Tao Yuanming berkata, “Karena para petani telah menggunakannya setiap hari. Sama halnya dengan belajar. Dengan belajar terus setiap saat akan mengasah intelektual Anda.”

Pemuda tersebut akhirnya mengerti. Ia berterima kasih kepada Tao Yuanming, kemudian menuliskan kalimat berikut untuknya, “Belajar dengan rajin adalah seperti sebuah kecambah di musim semi. Meskipun kita tidak dapat melihat pertumbuhan sehari-harinya, pada akhirnya tumbuh jadi besar. Belajar terus-menerus adalah seperti menggunakan batu pengasah pisau. Pengetahuan Anda akan semakin tajam setiap saat, tidak hanya dalam sekejab.”


Kokoh seperti Pohon

Gu Yewang dari Dinasti Selatan dan Utara (420-589 M) adalah seorang sejarawan terkenal. Pengetahuannya luas di banyak bidang. Banyak orang datang kepadanya untuk bertanya.

Suatu hari, anak salah seorang kawannya, Hou Xuan bertanya kepadanya, “Anda telah membaca banyak naskah. Saya ingin bertanya apakah ada jalan pintas dalam belajar.”

Setelah berpikir sejenak, Gu Yewang menunjuk pada sebuah pohon rindang dan menjawab, “Jika kamu ingin mengetahui jalan pintasnya, kamu harus melihat ke pohon ini.”

Hou Xuan melihat pohon tersebut dari atas hingga bawah sebanyak tiga kali namun tetap tidak

menemukan apa-apa yang tidak wajar. Kemudian Ia berkata, “Saya terlalu buta untuk melihat segala sesuatunya. Tolong bimbing saya.”

Gu Yewang berkata, “Dengan akar-akarnya, pohon dapat tumbuh tinggi dan kokoh. Hanya dengan batang pohon yang besar dan kokoh, pohon dapat tumbuh dengan dedaunan yang lebat. Hanya dengan cita-cita yang mulia dan kuat, dipercaya akan memiliki satu masa depan yang cerah. Ambil pohon sebagai contohnya, kuat dan pasti. Itulah kuncinya.”


Setelah itu, Hou Xan belajar dengan sabar dan meningkat dengan cepat. Teman-temannya menyadari Ia begitu akrab dengan buku-buku dimana ia dapat membacakan untuk mereka dari belakang ke depan. Lalu mereka bertanya kepadanya mengapa ia masih juga membacanya.

Hou Xuan menjawab, “Tidak ada jalan pintas dalam belajar. Segala sesuatu ada saatnya harus melangkah satu langkah. Saya masih belum dapat memberi penjelasan terlalu banyak prinsip dan arti yang lebih dalam dari buku-buku tersebut. Oleh karena itu, saya butuh untuk meninjau mereka kembali untuk belajar segala sesuatu yang baru setiap saat.”

Orang kuno percaya bahwa belajar adalah sebuah proses untuk memperbaiki moral seseorang dan kunci belajar terdapat pada kerja keras dan belajar terus-menerus.

Nabi bersabda, " Belajar dan selalu dilatih, tidakkah itu menyenangkan? Kawan-kawan datang dari tempat jauh, tidakkah itu membahagiakan? Sekalipun orang tidak mau tahu, tidak menyesali; bukankah ini sikap seorang Kuncu?"

(Sabda Suci I : 1)


"Memang ada hal yang tidak dipelajari, tetapi hal yang dipelajari bila belum dapat janganlah dilepaskan; ada hal yang tidak ditanyakan, tetapi hal yang ditanyakan bila belum sampai benar-benar mengerti janganlah dilepaskan; ada hal yang tidak dipikirkan, tetapi hal yang dipikirkan bila belum dapat dicapai janganlah dilepaskan; ada hal yang tidak diuraikan, tetapi hal yang diuraikan bila belum terperinci jelas janganlah dilepaskan; dan ada hal yang tidak dilakukan, tetapi hal yang dilakukan bila belum dapat dilaksanakan sepenuhnya janganlah dilepaskan.

Bila orang lain dapat melakukan hal itu dalam satu kali, diri sendiri harus berani melakukan seratus kali. Bila orang lain dapat melakukan dalam sepuluh kali, diri sendiri harus berani melakukan seribu kali."

(Tengah Sempurna XIX : 20)

Read More......

Rabu, 01 Desember 2010

Belajar Menjadi Manusia

Oleh: Makin Pak Kik Bio

PROF. Dr. Tu Weiming pernah mengunjungi Indonesia untuk memberikan ceramah dan seminar diberbagai kota seperti Jakarta, Yogyakarta, Semarang dan Surabaya. Prof. Dr. Tu Weiming adalah seorang profesor dalam bidang sejarah dan Filsafat China dan Konfuciani.

Dalam ceramahnya di berbagai tempat, Prof. Tu Weiming selalu menekankan bagaimana belajar menjadi manusia. Belajar menjadi manusia harus dipahami sebagai sebuah proses dinamis tiada akhir dari sebuah pembinaan diri. Pembelajaran ini tidak sekedar sebagai pengembangan ketrampilan professional atau pemahaman terhadap pengetahuan tertentu saja. Pembelajaran ini mempunyai tujuan memberi apresiasi secara menyeluruh terhadap berbagai dimensi kemanusiaan seseorang.

Belajar menjadi manusia tidak terjadi dengan begitu saja. Proses tersebut membutuhkan keputusan dan komitmen pribadi. Tanpa adanya usaha secara sadar, kita sebagai manusia yang memiliki keterbatasan, tidak akan mungkin dapat mengembangkan seluruh potensi yang ada dalam diri kita. Karena itu, kita harus meyakinkan diri kita sendiri pada proses pembelajaran secara moral dan spiritual untuk menjadi manusia sebagai titik awal memulai hidup yang panjang menuju manusia seutuhnya.
Proses pembelajaran ini harus berkesinambungan. Proses tersebut tidak dapat dipahami sebagai sebuah proyek atau program yang dapat mencapai kesempurnaannya pada kurun waktu tertentu. Bahkan dapat dikatakan proses pembelajaran menjadi manusia ini tidak pernah berakhir.
Proses tersebut bersifat holistik atau menyeluruh. Belajar menjadi manusia bukanlah sesederhana mempelajari satu ketrampilan profesi tertentu atau menjadi professional dalam satu tugas tertentu. Kita tahu benar bahwa menjadi musisi atau artis itu melibatkan banyak penguasaan, ketrampilan dan teknik yang baik. Pencarian bakat musik atau keartisan tentunya memerlukan seleksi kepribadian. Sebagai bahan bandingan, belajar mejadi manusia seutuhnya memerlukan sebuah transformasi kepribadian secara total dalam hal etika dan keberagamaan.
Kongzi mendifinisikan pembelajaran otentik sebagai “belajar demi kepentingan diri.” Sekilas kita menangkap kesan adanya semangat individualisme ekstrim dan idealisme subjektif dari apa yang diungkapkannya. Tetapi kesan itu akan segera hilang kalau kita kemudian menyadari bahwa yang dimaksud “diri” bukanlah diri atomistik sebagaimana dipahami oleh tradisi Barat. Diri adalah sesuatu yang niscaya dibentuk dalam pola relasi. Setiap relasi yang dijalin dengan lingkungan di luar dirinya, adalah bagian dari perkembangan dan pembentukan “diri’. Diri adalah kumpulan dari hubungan-hubungan tersebut. Diri adalah suatu yang selalu terbuka. Karena itu diri niscaya berdialog dengan manusia lain secara berkesinambungan.
Untuk lebih bermakna, pengembangan diri perlu melibatkan pengalaman dan refleksi terhadap banyak hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Setidaknya ada lima bidang pengalaman dan perhatian manusia dalam budaya yang diwarisinya, yang merupakan faktor sangat penting bagi proses pembelajaran menjadi manusia:
Pertama, adalah sanjak. Dalam Kitab Sanjak/Shi Jing, sanjak diartikan lebih luas menjadi ekspresi kesenian pada umumnya. Seni merupakan ekspresi jiwa manusia dalam bentuk estetik ketika manusia berhubungan dengan alam. Kemampuan merespons dunia dalam bentuk puitis, dianggap sangat penting bagi pengembangan diri.
Kedua, adalah aspek ritual. Dalam Kitab Kesusilaan/Li Jing, ritual dimaksudkan sebagai aspek latihan ritualisasi raga dan kedisiplinan yang integral dalam kehidupan. Diri dilatih bagaimana melakukan tindakan sehari-hari yang biasa dilakukan dalam kehidupan dengan orang lain. Menyapu, makan, duduk, berkomunikasi, bersembahyang dan lain-lain adalah sebentuk ritual yang sangat penting dalam pembentukan diri.
Ketiga adalah Sejarah yaitu memori kolektif berkaitan dengan asal-muasal kita sebagai manusia. Mempelajari sejarah berarti mengetahui dan peduli terhadap norma-norma dan ide-ide utama yang dianut oleh manusia masa lalu di mana kita sekarang menjadi bagian di dalamnya. Pemahaman seperti itu oleh Kongzi dituangakan dalam Kitab Chun Qiu/ Chun Qiu Jing.
Keempat pandangan politik. Manusia juga harus berpartisipasi dalam kehidupan sosial. Karena itu politik menjadi tak bisa dihindari. Manusia adalah mahluk politik yang harus berpartisipasi secara bertanggungjawab dalam kehidupan politik masyarakat. Pandangan partisipasi politik diartikulasikan dalam Kitab Hikayat/ Shu Jing.
Kelima manusia tentu tidak bisa dilepaskan dari alam dan dunia, tempatnya hidup. Pandangan positif terhadap kosmos (alam) menjadi penting bagi pembentukan diri. Inilah aspek terakhir ajaran Konfusius yang bisa ditemukan dalam Kitab Perubahan / Yi Jing ( I Ching).

Sumber : Pontianak Post

Read More......

Satu yang Menembusi Semuanya

Oleh : Makin Pak Kik Bio

PADA suatu kesempatan ketika Nabi Kongzi berbincang-bincang dengan Cingcu/Zengzi tentang azas “Satu yang menembusi semuanya” ternyata Cham nama kecil Zengzi, mampu mengerti apa yang dimaksud dengan satu menembusi segala, yaitu Zhong Shu/Satya dan Tepaselira.

Nabi bersabda: ”Cham, ketahuilah, Jalan Suciku itu satu, tetapi menembusi semuanya.” Zeng Zi menjawab: ”Ya, Guru.” Setelah Nabi pergi, murid-murid lain bertanya, “Apa maksud kata-kata tadi ?” Zengzi menjawab: ”Jalan suci Guru, tidak lebih tidak kurang ialah Satya dan Tepasarira.”Karena ini pulalah Nabi berkenan menurunkan kepada Zengzi ajaran-ajarannya yang merupakan penguraian tentang pembinaan diri berdasarkan Satya dan Tepaselira/ Tiong Si/ Zhong Shu ini. Oleh Zengzi kemudian uraian-uraian tadi dibukukan menjadi Kitab Thay Hak/ Da Xue.

Ajaran Satya dan Tepaserira ini disebut oleh Nabi Kongzi sebagai “Jalan Suci Yang Satu Menembusi Semuanya”, karena dalam ajaran ini Satya, vertikal menjalin manusia kepada Tuhan, Khaliknya. Tepaserira, horizontal menjalinkan manusia kepada sesama dan lingkungan hidupnya.Satya mempunyai pengertian imani, suatu rasa, tuntutan untuk selalu Satya terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang telah menjadikan kita manusia dengan kodrat kemanusiaannya. Bila terimani, bahwa Firman Tuhan/ Tian Ming itulah Watak Sejati/ Xing manusia dan benih Kebajikan/De, yang bersemi dalam hati nurani/ Xin, itulah pokok Watak Sejati/ Xing, yang merupakan hakekat dari kemanusiaan kita. Maka manusia yang telah dikaruniai kelebihan mulia dan utama itu mengemban tugas menegakkan Firman Tuhan/Tian Ming sebagai rasa “pertanggung-jawaban”/Zhong Yi Tian atas harkat manusiawinya.

Dari karakter huruf Zhong/ Satya, mempunyai arti suatu perilaku yang tengah-tepat, berlandaskan suara hati nurani, dengan mewujudkannya dalam segala tindakan. Manusia di dalam hidupnya secara rohaniah memang terpanggil untuk mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa, dalam hal umat Khonghucu, pengabdian ini merupakan pengejawantahan Satya/ Zhong manusia kepadaNya. Oleh karena itulah maka secara imani manusia terdorong pada kecenderungan mengadakan “persembahyangan” dengan segala ritualnya, untuk mencurahkan isi pengabdiannya terhadap Tuhan. Untuk itu sering disertai dengan bersuci-diri, agar “persembahyangan” nya itu berkenan kepadaNya.
Hal tersebut sudah ada sama lamanya dengan sejarah kemanusiaan dari manusia itu sendiri. Hanyalah kemudian karena disesuaikan dengan alam pikiran manusia, maka persembahyangan itu perkembangannya lalu disertai dengan bermacam-macam tata-cara, ditambah dengan pengorbanan, persembahan, syarat-syarat, dan lain sebagainya. Hal ini kadang-kadang dapat merubah panggilan imani yang tadinya secara murni keluar dari hati nurani manusia untuk mengadakan persembahyangan berdasarkan kesucian lahir-batin, menjadi suatu tradisi pantulan dari pikiran manusia, yang pada akhirnya kadang-kadang sampai melupakan pokok dari pengabdian itu. Manusia mengadakan lembaga keagamaan dengan segala tata-ibadahnya. Ada yang bersumber dari Kitab Suci namun tak kurang yang berdasarkan tradisi. Bahkan ada yang berlandaskan wangsit atau apapun namanya dari orang tertentu yang suci/ dianggap suci/ menganggap dirinya suci.
Maka dari segala gejala seperti di atas itulah mengapa dalam agama yang diturunkan kepada manusia melalui para Nabi utusanNya, selalu ada suatu ritual persembahyangan pula. Namun karena kebauran antara mana yang agamis dan mana yang tradisional, serta mana yang tak benar, pokok pengabdian dari “persembahyangan” itu dikembalikan/ diluruskan pada dasarnya, yaitu kesucian diri lahir batinlah yang menjadi syarat utamanya, agar persembahyangan manusia berkenan kepadaNya.

Kesucian lahir batin dalam iman umat Khonghucu memang sudah ditetapkan apa yang berkenan kepadaNya, yakni Kebajikan. Sedang benih kebajikan itu bersemi di dalam hati nurani. Dimana watak sejati yang difirmankan Tuhan itu berada, jadi sesungguhnya “persembahyangan” kepada Tuhan itu harus didasari dengan pengamalan FirmanNya. Dan itu, tentu adalah menetapi kodrat kemanusiaan.Dengan begitu bukankah merupakan sikap Satya kepada Tian/ Tuhan Yang Maha Esa.Zigong bertanya,”Adakah satu kata yang boleh menjadi pedoman sepanjang hidup?” Nabi bersabda,”Itulah Tepaserira,” Apa yang diri sendiri tiada inginkan, janganlah diberikan kepada orang lain.” Lun Yi XV : 24 “Maka kata-kata yang tidak senonoh itu akan kembali kepada yang mengucapkan, begitu pula kekayaan yang diperoleh dengan tidak halal itu akan habis tidak keruan.” Da Xue X : 10.Tepasarira adalah merupakan wujud dari pengejawantahan Firman Tuhan terhadap sesama dan lingkungannya yang akan dijelasan dalam tulisan berikutnya.

Sumber : pontianak Post

Read More......

Kamis, 28 Oktober 2010

Sembahyang Zhong Yuan (Chit Gue Pua)

Oleh Js.Ir.Djohan Adjuan

HARI sembahyang besar dalam agama Khonghucu, bulan ke-7 tanggal 15 Imlek (Chit gue pua), diadakan Sembahyang kepada Arwah Leluhur. Dan tanggal 29 bulan 7 Imlek juga diadakan Sembahyang Arwah Umum, yaitu arwah gentayangan yang tidak mendapat persembahyangan dari sanak keluarganya (disebut juga hari Ching He Phin/ King Ho Peng).
Makna dari kedua hari sembahyang tersebut diatas adalah merupakan: (1) sembahyang penghormatan arwah dan pengenangan kembali atas kebajikan semasa hidup para leluhur, (2) juga berdoa kepada Thian/Tuhan YME, semoga berkenan memberikan tempat yang tenteram damai dalam cahaya kemuliaan nan suci dalam Kebajikan Tuhan. (3) juga merupakan perwujudan dari perilaku Berbakti.
Makna Bakti itu sangat luas dijabarkan dalam agama Khonghucu. Di dalam Kitab Bakti/ Xiao Jing tertulis : ”Mendidik rakyat untuk saling mangasihi, tiada jalan yang terbaik dari pada menanamkan budaya berbakti. ….Perilaku Berbakti itu ialah pokok kebajikan, dari padanya agama berkembang. Maka seorang Susilawan mengutamakan Pokok; sebab setelah pokok itu tegak, niscaya jalan suci akan tumbuh, perilaku berbakti dan rendah hati adalah perwujudan dari Cinta Kasih dan Kebajikan…. Hal tubuh, anggota badan, rambut dan kulit, diterima dari ayah dan bunda, maka perbuatan kita tidak membiarkannya rusak adalah permulaan berbakti. Menegakkan diri hidup melaksanakan Jalan suci/Dao, meninggalkan nama baik di jaman kemudian sehingga memuliakan ayah dan ibu, itulah akhir perilaku berbakti…..berbakti itu dimulai dengan mengabdi kepada orang tua, selanjutnya mengabdi kepada pemimpin, dan akhirnya menegakkan diri”.
Nabi Khongcu bersabda: ”Langit mempunyai ketertiban, bumi mempunyai kebenaran dan manusia mempunyai perilaku. Maka ketertiban langit dan bumi itu menjadi teladan rakyat. Oleh terang langit, bumi menjadi subur dan memberi kemakmuran. Sungguh besarlah makna berbakti itu, bila itu terlaksana, maka dalam mendidik tidak diperlukan kekerasan akan berhasil; dan dalam pemerintahan akan tertib terselenggara tanpa perlu penerapan hukum yang menyiksa. ” Didalam kitab Kesusilaan/ Lee Ji tertulis :”… Rumah tangga tidak diatur baik-baik, itu tidak berbakti; Mengabdi pada pimpinan tetapi tidak setia, itu tidak berbakti; Menjalankan kewajiban dalam jabatan tidak dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, itu tidak berbakti; Dalam persahabatan tidak dapat dipercaya, itu tidak berbakti; Bertugas dalam medan perang tetapi tidak ada keberanian, itu tidak berbakti; bila tidak dapat melaksanakan 5 perkara itu, berarti mencemarkan nama baik orang tua, maka beranikah tidak bersungguh-sungguh?”…”Memotong pohon ataupun hewan tidak pada waktunya (yang belum berkembang biak) itu juga perbuatan yang tidak berbakti.”
Nabi Khongcu bersabda: ”Diantara watak-watak yang terdapat antara langit dan bumi, sesungguhnya manusialah yang termulia. Diantara perilaku manusia, yang termulia adalah berbakti. Diantara perilaku berbakti, yang termulia adalah menaruh hormat kepada orang tua. Dan wujud hormat pada orang tua, tiada yang lebih mulia daripada bersujud hidup selaras dengan firman Thian”.
“Adapun yang dinamai berbakti itu ialah dapat melanjutkan cita-cita mulia dan dapat mengikuti usaha mulia dari leluhurnya” (Cung Yong XVIII:2) Dalam hal orang tua berbuat salah, (Nabi Khongcu mengajarkan) sebagai anak wajib mengingatkannya, tetapi dengan lemah lembut. Bila tidak didengar juga, maka bersikaplah lebih hormat lagi dan jangan melanggar (kurang ajar). Meskipun bercapai lelah, janganlah menggerutu.
Perilaku berbakti kepada orang tua adalah tidak melanggar kesusilaan; “Pada saat hidup, layanilah dengan kesusilaan, saat meninggal dunia, makamkanlah sesuai dengan kesusilaan dan sembahyangilah sesuai kesusilaan”.(Lun Yi II:5)
Dalam berkata ingatlah akan orang tuamu, ingat akan leluhurmu. Maka dengan bersembahyang kepada arwah leluhur menjadikan orang senantiasa ingat akan tanggung jawabnya kepada yang telah mendahulu. Ia akan membina diri, hati-hati dalam perbuatan dan takut menodai mereka yang telah mendahulu. Dengan hormat kepada leluhur, berarti pula hormat satya kepada Thian, membawa perbuatannya berkenan kepada Thian sehingga boleh membawa berkah bagi dunia.
Demikianlah pada bulan 7 tanggal 15 Imlek, dilakukan sembahyang kepada arwah leluhur, dan tanggal 29 bulan tujuh Imlek dilakukan pula sembahyang kepada segenap arwah umum yang telah mendahulu dan semuanya hendaklah meneguhkan iman kita satya melaksanakan Firman Thian, berperi cinta kasih, tenggang rasa kepada sesama mahluk hidup serta menyayangi lingkungan alam sekitar. Janganlah melupakan pendahulu kita meski telah jauh terpisah oleh alam yang berbeda. Perbuatan yang selaras dengan firman Thian itu akan banyak membawa berkah.(Penulis pengurus MAKIN Medan)

Sumber : Pontianak Post

Read More......

Imajinasi yang Kaprah

CERITA ini mengenai peristiwa banjir yang disalah-pahami dalam mengatisipasinya. Kisahnya sbb; Diawali hujan lebat yang terus-menerus, tanpa henti selama beberapa hari, ditambah lingkungan alam yang sudah rusak akibat ulah tangan-tangan tak bertanggung jawab,

maka tak pelak air mulai meluap dari sungai dan menggenangi hunian. Sedikit demi sedikit namun pasti, air meninggi menenggelamkan segala yang ada.Diantara bangunan yang ada, sebut saja sebuah “tempat ibadah”, tidak luput dari genangan banjir yang memang tidak pandang bulu. Menghadapi situasi yang demikian, penjaga “tempat ibadah” tersebut melakukan doa agar Tuhan kiranya dapat menyelamatkan “tempat ibadah” serta dirinya yang telah sekian lama ‘mengabdi’.

Waktu terus berjalan dan banjirpun kian meninggi; radio, televisi, memberitakan bahwa ramalan cuaca BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) mengisyaratkan keadaan bisa semakin buruk. Kepala desa, segera memberi perintah pamongnya memukul kentongan sebagai tanda bahaya serta lewat pengeras suara berkeliling mengumumkan agar penduduk segera mengungsi. Mendengar pengumuman agar mengungsi, penjaga “tempat ibadah” itu merasa berat meninggalkan “tempat ibadah” yang selama ini sudah menjadi ‘rumahnya’, maka iapun berdoa kepada Tuhan dengan penuh pengharapan agar hujan dihentikan, banjirpun segera surut. Air sudah meninggi hingga atap rumah, tim SAR (penyelamat) yang diterjunkan bekerja keras mengevakuasi penduduk berlomba dengan meningginya air. Namun penjaga “tempat ibadah” itu tetap bertahan karena dia percaya bahwa Tuhan tentu mendengar doanya dan akan mengabulkan apa yang dia minta, sebagai imbalan pengabdiannya.

Akhirnya, banjir betul-betul menenggelamkan semua yang ada, termasuk penjaga “tempat ibadah” yang tidak mau meninggalkan ‘rumahnya’ itu. Kasihan, dia tenggelam pada “imajinasi”nya, dia tidak menyadari bahwa sesungguhnya Tuhan mendengar doanya dan sudah ‘memberitakan’ melalui pemberitaan radio maupun televisi akan bahaya banjir tersebut, bahkan Tim SAR pun sudah ‘diperintahkan’ untuk menyelamatkannya. Namun semuanya tidak ditanggapi bahkan ditolaknya.
Bahaya yang datang oleh ujian Thian, dapat dihindari; Tetapi bahaya yang dibuat sendiri, tidak dapat dihindari.(Bingcu IV A ; 8)
Dengan ceritera di atas, nampak sekali bahwa merasa ‘mempunyai agama’ (having religion), bukan selalu berarti telah memiliki pemahaman yang benar terhadap kebenaran yang diajarkan agama. Dalam beberapa hal memang kita menyalah-artikan, apa yang dipandang sebagai ‘pertolongan Tuhan’ lewat satu dan lain cara. Lebih-lebih, jika terperangkap ‘imajinasi pertolongan Tuhan’ dalam angan-angan kita. Seakan-akan, Tuhan pasti menolong kita dari sesuatu bencana, menurut ‘apa yang kita harapkan’. Disinilah letak kesalahan bahkan kesalahan yang kaprah, seolah-olah Tuhan harus mengikuti keinginan kita bahkan harus menurut perintah kita. Padahal melalui tanda-tanda alam Tuhan telah mengirim sinyal-sinyal, kita sendirilah yang kadang-kadang tidak dapat memahaminya. Kita perhatikan kejadian akbar baru-baru ini, bencana stunami. Diceriterakan oleh banyak kalangan tidak ada gajah, kelinci ataupun kerbau yang mati oleh gelombang tsunamai kecuali binatang itu terperangkap di dalam kandangnya. Mereka telah dapat membaca tanda-tanda alam sehingga mereka dapat lari menghindari bencana. Inilah yang oleh rasul Bingcu diingatkan, bahwa sesungguhnya ‘kesalahan’ fikiran atau keinginan kita sendirilah yang justru menjerumuskan kita pada bencana. Padahal, sesungguhnya, seorang yang memiliki iman akan Tuhan, harusnya memiliki keyakinan, bahwa sesungguhnya Tuhan itu tidak mungkin kita ‘gambarkan’ seperti ‘imajinasi’ kita.
Sungguh Maha Besar Kebajikan Tuhan Yang Maha Roh (Kwi Sin);
Dilihat tiada tampak, didengar tiada terdengar, namun tiap wujud tiada yang tanpa Dia. Adapun kenyataan Tuhan Yang Roh tak boleh diperkirakan, lebih-lebih tidak dapat ditetapkan (Tiong Yong XV)Maka hendaknya kita benar-benar tulus mengimani akan Hakekat Tuhan, menjalani apa yang Tuhan inginkan, bukannya mengharapkan Tuhan mengikuti apa yang kita inginkan. Dengan demikian kita mampu mengamalkan kebenaran agama itu secara benar dan menjadi seorang yang beriman dengan benar ( being religious )

Sumber : Pontianak Post

Read More......

Rabu, 27 Oktober 2010

Apa yang Kita sombongkan ??

Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya selalu kerap muncul tanpa kita sadari.


Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.

Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain. Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.

Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence). Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.

Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Panca indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi.

Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan. Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan.

Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetap makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong. Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala "tampak luar" lainnya. Yang kini kita harus lihat adalah "tampak dalam". Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego.

Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri. Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri.
Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?

sumber : gemaku.

Read More......

Selasa, 26 Oktober 2010

8 hal yang bisa menurunkan kekebalan tubuh

Dikutip dari Prevention, Rabu (6/10/2010) ada 8 hal yang bisa menurunkan kekebalan tubuh, yaitu:

1. Sering begadang

Mengurangi waktu tidur akan memiliki efek merugikan yang kuat terhadap imunitas, hal ini karena jam tidur yang kurang dikaitkan dengan menurunnya fungsi sistem kekebalan tubuh dan mengurangi jumlah sel-sel yang berfungsi melawan kuman. Peneliti dari University of Chigago menemukan orang yang tidur 4 jam, hanya akan menghasilkan antibodi sebanyak 50 persen saja di dalam darahnya.

2. Bertindak pesimis

Sebuah studi dari UCLA menemukan mahasiswa yang memulai semester pertamanya dengan optimistis memiliki sel T yang lebih banyak, sehingga dapat memperkuat respons imun dan menguatkan sel-sel pembunuh alami di dalam tubuh. Hal ini disebabkan ia akan sedikit mengalami stres yang membuat ia memiliki kesehatan yang baik.

3. Selalu merasa tertekan dan stres

Stres dan tekanan kronis yang diterima setiap hari tidak hanya membuat pekerjaan menjadi tidak nyaman, tapi juga merugikan aspek kesehatan termasuk kekebalan tubuh. Jenis stres yang dialami dapat menyebabkan penurunan kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam melawan penyakit. Karena itu cobalah temukan cara untuk mengurangi stres, seperti pergi ke suatu tempat, melakukan yoga atau melakukan hal-hal yang menyenangkan.

4. Selalu meminjam pulpen atau barang dari orang lain

Kuman sangat mudah lewat dari tangan ke tangan, karena itu hindari menyentuh objek-objek umum seperti pena atau yang lainnya agar dapat mengurangi risiko terkena flu atau penyakit menular yang bisa mempengaruhi sistem kekebalan tubuh.

5. Selalu menggunakan kendaraan saat pergi kemanapun

Seseorang yang selalu menggunakan kendaraan dan tidak pernah berjalan akan membuat dirinya lebih rentan sakit dan turunnya kekebalan tubuh dibandingkan dengan orang yang berjalan secara teratur. Para ahli menuturkan berjalan atau aerobik selama 30 menit dapat membuat sel-sel darah putih kembali ke sirkulasi dan sistem kekebalan tubuh kembali lebih lancar.

6. Memiliki teman yang perokok

Seperti diketahui asap rokok yang terhirup bisa berbahaya bagi tubuh, termasuk sistem kekebalan tubuh seseorang. Karena itu sebisa mungkin menghindari paparan asap rokok ketika menghabiskan waktu dengan seorang perokok.

7. Sering mengonsumsi antibiotik

Peneliti menemukan pasien yang mengonsumsi antibiotik tertentu dapat mengurangi jumlah sitokin (hormon pembawa pesan dari sistem kekebalan tubuh). Sehingga ketika sistem kekebalan tubuh ditekan, seseorang akan lebih mudah mengembangkan bakteri resisten. Untuk itu sebaiknya tidak mengonsumsi sembarangan antibiotik, kecuali diresepkan oleh dokter.

8. Memiliki kepribadian yang serius

Peneliti mengungkapkan emosi positif yang dihubungkan dengan tertawa bisa menurunkan hormon stres dan meningkatkan sel-sel kekebalan tertentu serta mengaktifkan yang lainnya.

Penelitian yang dilakukan oleh Loma Linda University School of Medicine mendapatkan orang dewasa sehat yang menonton video lucu selama satu jam akan mengalami peningkatan yang signifikan dalam hal aktivitas sistem kekebalan tubuh.

Read More......